Sabtu, 07 Januari 2012

AL-BALAGHAH DALAM ILMU RETORIKA ATAU KEINDAHAN BAHASA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ilmu balaghah sebagai salah satu cabang ilmu dalam bahasa Arab pun mengalami fase kemunculan, perkembangan, dan seterusnya. Ilmu bahasa Arab yang memiliki tiga cabang ini, yaitu ilmu ma’ani, bayan, dan badi’, tidaklah ada dari awal dalam sistematika seperti yang kita kenal sekarang ini. Dahulu, sama sekali tak dikenal istilah balaghah sebagai sebuah ilmu.
Pengetahuan tentang sisi sejarah balaghah perlu dipahami agar muncul kesadaran bahwa ilmu ini memang bukan benda mati yang yang tidak dapat diperbarui. Kesadaran inilah yang dapat menjamin perkembangan ilmu ini yang lebih maju, tidak mengalami kejumudan atau bahkan kepunahan. Kemajuan yang dimaksud di sini meliputi berbagai segi, entah dari segi pengajarannya yang lebih mudah, cakupan materi yang lebih luas, ataupun hasil penerapan dari ilmu itu sendiri yang memuaskan, atau bahkan munculnya ilmu baru dari ilmu yang telah ada.
llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.
Posisi ilmu Balaghah dalam tatanan kelompok ilmu-ilmu Arab persis seperti posisi ruh dari jasad. Keberadaan ilmu Balaghah dan kaidah-kaidah yang tertuang didalamnya sangat urgen.
Di dalam makalah ini akan membahas lebih jelas lagi tentang, sejarah munculnya Al- Balaghah, pengertian dari Al- Balaghah dalam ilmu retorika atau keindahan bahasa, dan Urgensi Ilmu Balaghah.



B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalh ini antara lain yaitu:
1.      Bagaimana sejarah munculnya Al- Balaghah?
2.      Apa maksud atau pengertian dari Al- Balaghah dalam ilmu retorika atau keindahan bahasa?
3.      Apa Urgensi Ilmu Balaghah?
C.    Tujuan Makalah
Adapun yang menjadi tujuan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui sejarah munculnya Al- Balaghah
2.      Untuk maksud atau pengertian dari Al- Balaghah dalam ilmu retorika atau keindahan bahasa
3.      Untuk mengetahui Urgensi Ilmu Balaghah


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Munculnya Al- Balaghah
Sebuah ilmu tidaklah muncul sekaligus sempurna dalam satu masa. Ilmu mengalami fase sejarah dimana ia muncul, berkembang, dan maju, hingga bisa jadi mengalami kepunahan.
Ilmu balaghah sebagai salah satu cabang ilmu dalam bahasa Arab pun mengalami fase kemunculan, perkembangan, dan seterusnya. Ilmu bahasa Arab yang memiliki tiga cabang ini, yaitu ilmu ma’ani, bayan, dan badi’, tidaklah ada dari awal dalam sistematika seperti yang kita kenal sekarang ini. Dahulu, sama sekali tak dikenal istilah balaghah sebagai sebuah ilmu.
Pembahasan tentang sejarah balaghah menurut Amin Al-Khuli meliputi tiga segi, yaitu:
1.      Sejarah tentang materi balaghah dan ketentuan-ketentuannya, meliputi masalah awal kemunculan, tahapan perkembangan, dan bagaimana ilmu ini pada akhirnya;
2.      Kajian tentang tokoh-tokoh ilmu balaghah;
3.      Kajian tentang khazanah tulisan atau karangan dalam ilmu balaghah. Ketiga segi di atas terkadang sulit dipisahkan satu per satu dalam kajian yang beruntun. Hal ini karena ketiganya saling berkaitan erat satu sama lain.
Pengetahuan tentang sisi sejarah balaghah perlu dipahami agar muncul kesadaran bahwa ilmu ini memang bukan benda mati yang yang tidak dapat diperbarui. Kesadaran inilah yang dapat menjamin perkembangan ilmu ini yang lebih maju, tidak mengalami kejumudan atau bahkan kepunahan.
Kemajuan yang dimaksud di sini meliputi berbagai segi, entah dari segi pengajarannya yang lebih mudah, cakupan materi yang lebih luas, ataupun hasil penerapan dari ilmu itu sendiri yang memuaskan, atau bahkan munculnya ilmu baru dari ilmu yang telah ada.
Ilmu-ilmu bahasa Arab berkembang pesat tak lepas dari faktor turunnya Al-Quran dalam bahasa Arab. Al-Quran sebagai kitab samawi pegangan umat Islam merupakan inspirator bagi para ahli bahasa Arab untuk mengkonsep berbagai macam pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjaga keasliannya, membantu memahaminya, dan menemukan sisi-sisi keindahannya.
Para pakar bahasa ketika menghendaki menafsirkan satu ayat atau menetapkan makna dari satu kata yang sulit dipahami, maka mereka mendatangkan syair jahiliy yang memuat kata tersebut beserta makna dan gaya bahasanya. Hal ini khususnya bagi tafsir yang banyak menggunakan pemaknaan secara bahasa, misal Tafsir Al-Kasysyaf karya Az-Zamakhsyari. Interaksi para pakar dengan syair dan produk kesusastraan (adab) lainnya inilah yang menjadikan mereka menulis berjilid-jilid buku tentang kumpulan syair, makna kosakata, khithobah, dan khazanah sastra lainnya. Mereka menulisnya salah satunya demi khidmah kepada Al-Quran.
Dari sinilah kemudian ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kata-kata muncul dan berkembang. Ilmu-ilmu ini lebih dari dua puluh macam, seperti nahwu, sharaf, isytiqaq, ma’ani, bayan, badi’, ‘arudl, dan lain-lainnya. Secara historis istilah balaghah muncul belakangan setelah benih-benih ilmu ini telah muncul dengan berbagai istilahnya sendiri. Bahkan, sebelum ilmu-ilmu tersebut dikenal, esensinya telah mendarah daging dalam praktek berbahasa orang-orang Arab dulu. Berbagai macam pengetahuan manusia, mulai dari ilmu, filsafat, seni, dan lainnya telah ada di akal dan lisan manusia dalam kehidupannya jauh sebelum diajarkan dan dikodifikasikan.
Tidak terkecuali ilmu balaghah, ilmu yang terkait ketepatan dan keindahan berbahasa ini sebagai sebuah pengetahuan telah menghiasi berbagai perkataan orang Arab, baik dalam puisi maupun prosa, bahkan jauh sebelum Al-Quran turun. Setiap bangsa pasti akan memilih yang bagus dari seni berbahasa mereka. Membedakan antara bahasa yang baik dan buruk telah menjadi kemampuan fitrah mereka sebagai pemilik bahasa tersebut. Mereka pun telah menggunakan berbagai macam gaya bahasa yang indah. Tak terkecuali bangsa Arab dan bahasa mereka.
Sebagaimana telah disampaikan di depan, Al-Quran adalah salah satu faktor munculnya berbagai ilmu bahasa. Keindahan bahasa Al-Quran yang tak tertandingi menjadikannya sebagai puncak tertinggi dalam hal ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Para pakar yang biasa berbangga dengan keindahan syair dan juga terbiasa saling mengkritisi syair satu sama lain mulai menghadapkan Al-Quran dengan pengetahuan mereka tentang keindahan berbahasa. Dari sinilah mulai berkembang benih-benih ilmu balaghah.
Pada perkembangan selanjutnya, semakin luasnya percampuran orang Arab dengan non-Arab seiring kemajuan peradaban Islam menjadikan perlu disusunnya sebuah ilmu pengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Hal ini karena mereka orang-orang non-Arab tidak dapat mengetahui keindahan bahasa Arab kecuali jika terdapat kaidah ataupun pembanding. Hal ini penting terutama karena mereka punya keinginan besar untuk mengetahui kemukjizatan Al-Quran.
Tema-tema ilmu balaghah mulai muncul belakangan setelah muncul dan mulai berkembangnya ilmu nahwu dan sharaf. Tema-tema ini yang dulunya dikenal sebagai kritik sastra (naqd al-adab) semakin berkembang lebih dari pada masa jahiliyah. Mulai dari masa khilafah Umawiyah, sebenarnya para ulama pakar sastra mulai bicara tentang makna fashahah dan balaghah dan berusaha menjelaskannya dengan contoh dan bukti-bukti dari apa yang diriwayatkan dari orang-orang sebelum mereka. Dari sinilah kemudian mulai muncul balaghah ‘arabiyyah dari berbagai segi. Disusunlah buku-buku yang berbicara tentangnya hingga sampailah fase pengajaran dari sebuah ilmu.
Kitab yang pertama kali disusun dalam bidang balaghah adalah tentang ilmu bayan, yaitu kitab Majazul Qur’an karangan Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna, murid Al-Khalil. Sedangkan ilmu ma’ani, maka tidak diketahui pasti orang pertama kali yang menyusun tentang ilmu tersebut. Namun, ilmu ini sangat kental dalam pembicaraan para ulama, terutama al-Jahidz dalam I’jazul Quran-nya.
Adapun penyusun kitab tentang ilmu badi’ pada masa awal, yang dianggap sebagai pelopor, adalah Abdullah Ibn al-Mu’taz (w. 296 H) dan Qudamah bin Ja’far dengan Naqd asy-Syi’r dan Naqd an-Natsr. Itulah ilmu balaghah pada masa awal kemunculannya. Yaitu terutama pada masa- masa abbasiy kedua (232-334 H). Dalam fase tersebut, balaghah dengan tiga cabangnya masih belum jelas keterkaitannya dalam kesatuan balaghah hingga nantinya memasuki masa perkembangannya di abad kelima hijriyah.

B.     Pengertian Al- Balaghah dalam Ilmu Retorika atau Keindahan Bahasa
Secara ilmiah, ilmu balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang mengarahkan pembelajaran untuk bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan seseorang berdasarkan kepada kejernihan dan ketelitian dalam menangkap keindahan. Mampu menjelaskan perbedaan yang ada di antara macam-macam uslub (ungkapan). Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghah, bisa diketahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits.
Balaghah merupakan kajian teoretik yang membahas bentuk-bentuk pengungkapan dilihat dari tujuannya. Sebagai wilayah kajian, ilmu ini terkait dengan makna, sehingga selalu bersinggungan dengan semantik. Semantik berarti teori makna atau teori arti. Ilmu ini merupakan cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti emantik mempunyai objek berupa hubungan antara objek dan simbol linguistik. Selain itu ilmu ini membahas perubahan makna kata emantik sebagai ilmu untuk mengungkapkan makna mempunyai beberpa teori, di antaranya: conceptual theory, reference atau corespondence theory, dan field theory.
Ilmu balaghah merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah kalimat, yaitu mengenai maknanya, susunannya, pengaruh jiwa terhadapnya serta keindahan dan kejelian pemilihan kata yang sesuai dengan tuntutan. Ada tiga sub ilmu balaghah:
1.      Ilmu ma’aani
ilmu ma' ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab sesuai dengan situasi kondosinya. Ilmu Ma'ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya Ilmu Ma'ani itu adalah suatu peraturan tentang pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat. Dalam kelompok ilmu Ma' ani ini akan dibahas mengenai :
a)      Kalam khabari dan insya
f)       Zikru dan Hazfu
c)      Taqdim dan ta'hir
d)     Qashar
e)      Washal dan fashal
f)       Ijaz dan Musawah
2.      Ilmu Bayan:
Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai dari mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa. Ilmu Bayan untuk mengungkapkan suatu makna dengan berbagai uslub. Ilmu ini objek pembahasannya berupa uslub-uslub yang berbeda untuk mengungkapkan suatu ide yang sama. Ilmu bayan berfungsi untuk mengetahui macam-macam kaidah pengungkapan, sebagai ilmu seni untuk meneliti setiap uslub dan sebagai alat penjelas rahasia balaghah. Keterangan ringkas mengenai pembahasan ilmu Bayan :
a.       Tasybih
Secara harfiyah : “perbandingan atau perumpamaan kata dengan kata lain, seperti : Wajah gadis cantik dengan rembulan”. Menurut Istilah ilmu retorika, ialah ; “suatu ungkapan mengenai sesuatu yang mempunyai persamaan sifat atau persamaan yang lainnya, dengan menggunakan kata “ka” (seperti atau laksana atau bagaikan)”. Contoh teks al-Tasbih : “Anda seperti matahari bercahaya. Meskipun anda telah melampau bintang zuhal”.
Secara umum tujuan tasybih ialah untuk menjadikan suatu sifat lebih mudah diindera. Adapun secara terperinci tujuan-tujuan tasybih ialah :
1)      Bayaan miqdaar al-shifat (menjelaskan kualitas sifat)
2)      Taqriir al-shifat (meneguhkan sifat)
3)      Tahsiin al-musyabbah (memperindah musyabbah)
4)      Taqbiih al-musyabbah (memperburuk musyabbah)
5)      Tashwiir al-musyabbah bi shuurah al-thariifah
6)      Itsbaat qadhiyyah al-musyabbah
Jika dilihat dari asal kata, tasybih berasal dari kata Syabbaha, mengingat masamuda, mensifatkan kecantikan gadis. Dari segi ilmu Balaghah adalah menyempakan sesuatu kepada sesuatu yang lain dalam bahasa arab itu ditujukan supaya dapat menggambarkan hal rang tersembunyi, hal yang jauh, dan yang dekat, menambah ketinggian derajat, memuji keindahan, kelebihan seseorang atau kelompok, sehingga menyentuh perasaan orang. Arkanutasybih (rukun-rukun tasybih) yaitu:
a)      Musyabbah : yaitu suatu yang dipersamakan
b)      Musyabbah bih : yaitu yang diumpamakan
c)      Adat Tasybih : yaitu lapaz yang dipergunakan untuk membuat suatu perumpamaan
d)     Wajah syabah : suatu sisi yang dipersamakan.
Dilihat dari struktur pembagianTasybih ditilik dari keadaan Wajah Syabah nya:
·         Tasybih Mujmal
Yaitu: yang wajah syabahnya tidak disebutkan.
·         Tasybih Mufasshol
Yaitu: yang wajah syabahnya perlu dijelaskan.
Contoh: Gusinya dan air mataku, sama bersihnya laksana mutiara.
·         Tasybih Khofi (samar-samar)
Yaitu: yang wajah syabahnya sulit dipahami, kecusli oleh orang yang cerdik, seperti menyerupakan orang-orang yang setara derajatnya dengan kalung yang direndam, yang tidak diketahui ujungmya.
Contoh: Mereka itu tak udahnya seperti seuntai kalung yang direndam, yang tidak diketahui yang manakah ujungnya.
·         Tasybih Tamtsil
Yaitu: yang di dalam wajah syabahnya, terdapat sebutuan yang bertentangan dari orang yang memperhitungkan.
Contoh: Sesungguhnya aku melihatmu seakan memajukan sebelah kaki sambil memundurkan yang sebelah lagi.
·         Tasybih Jali
Yaitu: yang wajah syabahnya gampang dimengerti.
Contoh: Zaid seperti singa (dalam keberaniannya).
·         Tasybih Ghairu Tamtsil
Yaitu: yang wajah syabahnya tidak diambil dari wajah syabah yang banyak.
Contoh: Orang yang baik-baik di zaman ini, tah ubahnya seperti belirang merah (tentang kelangkaannya).
b.      Majaz
Secara harfiyah : “jalan atau perjalanan atau kebolehan atau kiyasan”. Menurut Istilah ilmu retorika, ialah ; “kata yang digunakan dalam kalimat bukan menurut arti yang sebenarnya, karena ada ‘alaqah atau hubungan atau qarinah atau bukti atau sebab yang menghalangi arti yang dimaksud menurut yang sebenarnya” (al-lafzhu al-musta’malu fi ghairiha ma wudhiha lahu au fi ghairi ma’naha). Majaz ada dua macam :
1.      Majaz Mursal : majaz yang tidak dibangun diatas tasybih.
2.      Isti’arah : majaz yang dibangun diatas tasybih, atau penggunaan kata tidak dalam makna haqiqinya karena adanya hubungan keserupaan (syibh) antara makna yang dipakai tersebut dan makna haqiqinya. Isti’arah dibagi beberapa macam, seperti:
Ø  Isti’arah Tashrihiyah : mengemukakan maksud musyabbah dengan menggunakan lafazh musyabbah bih, dan setiap orang mesti akan memahami bahwa maksud yang sebenarnya ialah musyabbah berdasarkan konteks kalimatnya. Dalam hal ini sang penutur menggunakan musyabbah bih dengan menghilangkan musyabbahnya. Konteks kalimat harus benar-benar menunjukkan bahwa musyabbah bih tidaklah digunakan dalam makna hakikinya, tetapi sebaliknya yakni mengandung makna musyabbah. Indikasi yang demikian ini disebut sebagai qarinah al-isti’arah.
Ø  Isti’arah Makniyah : Dalam isti’arah ini, musyabbah bih tidak muncul dengan jelas akan tetapi sedikit samar. Lafazh yang menunjukkan isti’arah dengan demikian bukanlah lafazh musyabbah bih melainkan lafazh-lafazh yang mengiringinya atau lafazh-lafazh yang menunjukkan sifat-sifatnya. Lafazh-lafazh ini dinisbatkan kepada musyabbah bih. Jadi, tasybih yang ditimbulkan bersifat mudhmar didalam pikiran. Apabila suatu isti’arah makniyah menyerupakan sesuatu dengan manusia maka ia disebut tasykhish (personifikasi).
Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna kiasan atau figuratif meaning (pemakian kata – kata yang bukan pada arti yang sebenarnya). Contoh:
§  seorang pemberani berpidato di depan kita
§  Ini adalah suatu kitab yang telah kami turunkan kepadamu supaya kamu membawa manusia dari kegelapan ke cahaya
Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz ini termasuk gaya bahasa hiperbola dalam kelompok gaya bahasa pertentangan.
c.       Al-Hakiki (makna yang sebenarnya)
Secara harfiyah : “makna yang selayaknya atau yang sebenarnya”. Menurut Istilah ilmu retorika, ialah ; “kata yang dipakai dalam kalimat menurut arti yang sebenarnya” (al-kalimatu al-musta’malatu fi al-kalami fi ma’naha al-haqiqi).
Contoh teks al-Hakiki :
ﺣﻣﺩﺍﻟﮑﺗﺎﺏ ﻗﺮﺃ
Artinya : “Ahmad membaca buku”.
d.      Kinayah
Kinayah menurut bahasa ialah perkataan tidak jelas maksudnya, seperti halnya kiasan, sedangkan kinayah menurut istilah ialah:  lafal yang dengannya itu menghendaki yang lazim makna aslinya bersama pelampuan dari yang diinginkannya (dimaksudkannya).
Contoh: Zaid itu panjang sarung goloknya.
Yang dimaksudkan ialah: Zaid itu jangkung. Lazimnya ialah: Tinggi bentuk tubuhnya. Maka, setiap orang yang jangkung, biasanya goloknya pun panjang. Kalaupun demikian, dapat pula diartikan dengan makna aslinya.
Kinayah adalah lafal yang dengannya itu dapat diketahui maknanya yang dimaksudkan, di atas maksud makna asalnya yang dikehendaki bersamanya. Kinayah itu datang untuk:
Œ  Pengkhususan (penentuan) sifat untuk maushuf, seperti: Adanya kebaikan itu dalam uzlah, wahai, ahli, tasawuf. Yang dimaksudkan ialah: Bahwa ketentuan bagi para ahli sufi adalah baruzlah)
Contoh lainnya:
ù  Keagungan ada di antara kedua bajunya.
ù  Kemuliaan ada di antara kedua baju dinginnya.
Maksudnya adalah bahwa untuk menentukan orang tertentu dengan keagungan dan kemuliaan.
  Untuk menentukan zat maushuf, seperti:
Contoh: Telah datang penjamu.
Maksudnya ialah Zaid, sebab dia sering menjamu tamunya, sehingga tampaknya hanya Zaid sajalah tukang menjamu.
Ž  Untuk menentukan dzat sifat,
Sedangkan tujuan kinayah adalah:
§  Menjelaskan, seperti: bagi orang yang tinggi.
§ Mempersingkat (ikhtisar), seperti: Si fulan itu kurus anak sapinya. Maksudnya adalah sebai kinayah dari seringnya menyembelih induk sapi untuk suatu penjamuan, sampai-sampai anak sapinya kurus, karena kurang menyusu.
§ Memelihara kehormatan
§ Menghilangkan lafal sebab dipandang jelek dan sebagainya, seperti: menyapu dan mendatangi (bersetubuh) (dalam ayat Al qur’an).”
3.      Ilmu Badi’
Membahas tata cara memperindah suatu ungkapan, baik pada aspek lafal maupun pada aspek makna. Ilmu ini membahas dua bidang utama, yaitu muhassinaat lafdziyyah dan muhassinaat ma’nawiyyah. Muhassinaat lafdziyyah meliputi jinas, iqtibas, dan saja’. Muhassinaat ma’nawiyyah meliputi tauriyah, tibaq, muqaabalah, husn at-ta’lil, ta’kid al madh bima yusybih al-dzamm dan uslub alhakiim.

C.    Urgensi Ilmu Balaghah
Posisi ilmu Balaghah dalam tatanan kelompok ilmu-ilmu Arab persis seperti posisi ruh dari jasad. Keberadaan ilmu Balaghah dan kaidah-kaidah yang tertuang didalamnya sangat urgen. Urgensitas tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah :
1.      Ilmu Balaghah merupakan perangkat media yang dapat menghantarkan seseorang kepada pengetahuan tentang ke-I’jaz-an al-Qur’an;
2.      Ilmu Balaghah merupakan salah satu instrument yang dapat membantu seorang yang bergelut dengan diskursus al-Qur’an terutama mufassir dalam memahami kandungan isi al-Qur’an dan pesan-pesan yang tertuang didalamnya. Hal ini diperjelas oleh pernyataan al-Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf yang artinya:
 “Sesungguhnya ilmu yang paling sarat dengan noktah-noktah rahasia yang rumit di tempuh, paling padat dengan kandungan rahasia yang pelik, yang membuat watak dan otak manusia kewalahan untuk memahaminya adalah ilmu tafsir, yakni ilmu yang sangat sulit untuk dijangkau dan diselidiki oleh orang yang berstatus alim sekalipun. Dan tidak akan mampu untuk menyelam kekedalaman hakekat pemahaman tersebut kecuali seseorang yang memiliki kompetensi dan kredibilitas dalam dua spesifik ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an, yaitu ilmu Ma’ani dan ilmu Bayan”.






















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
llmu balaghah yang semula oleh sementara orang dikategorikan kepada ilmu sastra, tetapi ilmu balaghah itu adalah sintaksis Arab. Sebagai ilmu semantik tentu ia berkaitan erat dengan ilmu Sintaksis ilmu Nahwu dan ilmu sarf. Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab akan terlihat dengan jelas jika dipergunakan kaca mata balaghah, dengan demikian akan mudah pula untuk mengerti pesan yang terkandung dalam serangkaian kalimat, baik berbentuk sastra ataupun yang bukan sastra.
Secara ilmiah, ilmu balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang mengarahkan pembelajaran untuk bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan seseorang berdasarkan kepada kejernihan dan ketelitian dalam menangkap keindahan. Mampu menjelaskan perbedaan yang ada di antara macam-macam uslub (ungkapan). Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghah, bisa diketahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits.
Al Balaghah dibagi menjadi beberapa kelompok seperti: Ilmu Ma’ani : ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari sisi penunjukan maknanya, ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadhaa al-haal, Ilmu Bayan : ilmu yang mempelajari cara-cara penggambaran imajinatif, Ilmu Badii’ : ilmu yang mempelajari karakter lafazh dari sisi kesesuaian bunyi atau kesesuaian makna.
Urgensitas disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah Ilmu Balaghah merupakan perangkat media yang dapat menghantarkan seseorang kepada pengetahuan tentang ke-I’jaz-an al-Qur’an dan Ilmu Balaghah merupakan salah satu instrument yang dapat membantu seorang yang bergelut dengan diskursus al-Qur’an terutama mufassir dalam memahami kandungan isi al-Qur’an dan pesan-pesan yang tertuang didalamnya.
  1. SARAN
Setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasan mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Sebagai staf pengajar penulis menyarankan agar setiap, mahasiswa mempelajari tentang ilmu nahwu dan Morfologi Arab dengan baik agar lebih mudah menyerap, terutama ilmu balaghah yang dianggap sulit itu akan lenyap sendiri.






















DAFTAR PUSTAKA


sastra-sastraarab.blogspot.com

Akhdhori Imam, (2010), Terjemah Jauharul Maknum, Al Hidayah Surabaya




1 komentar: